TSrlGUd7TSM5GSCoGfriTpCoBA==

Serba-Serbi Gerhana: Fakta Unik dan Menarik

Gerhana selama ini lebih sering dikenal melalui cerita-cerita mistik dan kepercayaan turun-temurun yang berkembang di berbagai peradaban. Tidak sedikit orang yang memandang fenomena ini hanya sebagai peristiwa langit yang identik dengan mitos dan hal-hal supranatural. Padahal, di balik kemunculannya, gerhana menyimpan banyak sisi menarik yang belum banyak diketahui oleh masyarakat. Fenomena ini bukan hanya sekadar perubahan gelap di langit, melainkan juga menjadi bagian dari perjalanan panjang manusia dalam memahami alam semesta dan berbagai hal di sekitarnya.

Fakta Unik dan Menarik Gerhana



Terjadi Penurunan Suhu Ketika Gerhana

Gerhana Matahari tidak hanya menghadirkan perubahan visual di langit, tetapi juga mampu memengaruhi kondisi lingkungan di Bumi, salah satunya penurunan suhu udara secara drastis. Fenomena ini pernah diamati secara jelas saat gerhana Matahari total pada 21 Agustus 2017 yang melintasi sebagian besar wilayah United States. Bayangan Bulan melewati 14 negara bagian dan menjadi perhatian para peneliti cuaca, termasuk jaringan Kentucky Mesonet yang mengoperasikan puluhan stasiun cuaca otomatis untuk merekam perubahan atmosfer selama gerhana berlangsung.

Salah satu lokasi pengamatan berada di Hopkinsville, wilayah yang tepat dilintasi jalur totalitas gerhana. Ketika cahaya Matahari tertutup sepenuhnya dan permukaan Bumi tidak lagi menerima sinar matahari langsung, suhu udara di wilayah tersebut tercatat turun sekitar 4,4 derajat Celsius hanya dalam beberapa menit setelah puncak gerhana berakhir. Menariknya, penurunan suhu maksimum tidak terjadi tepat saat Bulan menutupi Matahari, melainkan beberapa menit setelahnya. Hal ini terjadi karena Matahari sebenarnya memanaskan permukaan tanah terlebih dahulu, lalu panas tersebut diteruskan ke udara melalui proses konveksi yang membutuhkan waktu tertentu.

Fenomena serupa juga dirasakan di Indonesia saat gerhana Matahari hibrida pada 20 April 2023. Di wilayah Pantai Wambar, Distrik Fakfak Timur, sekitar 90 persen permukaan Matahari tertutup oleh Bulan. Warga setempat merasakan perubahan suhu yang cukup drastis, dari kondisi panas sekitar 32–33 derajat Celsius menjadi sekitar 22 derajat Celsius saat puncak gerhana berlangsung. Perubahan ini membuat suasana yang sebelumnya terik berubah menjadi jauh lebih sejuk dalam waktu singkat. Menurut Iswanudin dari BMKG, gerhana Matahari hibrida merupakan salah satu fenomena astronomi yang unik karena mampu menghadirkan perubahan atmosfer yang dapat dirasakan langsung oleh manusia.

Hewan Bertingkah Aneh

Dikutip dari National Geographic Indonesia, sebagian besar hewan sangat bergantung pada siklus terang dan gelap dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Perubahan cahaya alami menjadi penanda bagi hewan untuk menentukan waktu mencari makan, beristirahat, bermigrasi, hingga berkembang biak. Namun ketika gerhana Matahari total terjadi, perubahan mendadak pada kondisi langit membuat ritme alami tersebut seakan terganggu.

Berdasarkan laporan dari EarthSky, fenomena gerhana dapat membuat hewan mengira malam datang lebih cepat dari biasanya. Adam Hartstone-Rose dari North Carolina State University yang memimpin penelitian perilaku hewan saat gerhana Matahari di Amerika Serikat tahun 2017 menjelaskan bahwa banyak hewan menunjukkan respons seperti memasuki rutinitas malam hari lebih awal.

Dalam pengamatannya di Riverbanks Zoo and Garden, burung-burung mulai berhenti bersuara dan menjadi lebih tenang ketika langit perlahan menggelap. Sebaliknya, jangkrik dan tonggeret justru mulai mengeluarkan suara nyaring seperti yang biasa terdengar saat senja atau malam hari.

Selain memengaruhi ritme sirkadian hewan, penelitian yang dipimpin Adam Hartstone-Rose juga menemukan sejumlah perilaku tidak biasa selama gerhana Matahari berlangsung. Salah satu perilaku paling mencolok terlihat pada kawanan jerapah yang mendadak berlari secara liar dan sulit dikendalikan ketika gerhana mencapai puncaknya.

Dalam wawancaranya dengan BBC Science Focus, Hartstone-Rose menjelaskan bahwa jerapah di alam liar umumnya merupakan hewan yang tenang dan jarang menunjukkan kepanikan ekstrem. Menurutnya, perilaku agresif seperti berlari tanpa arah biasanya hanya muncul ketika mereka merasa terancam oleh predator atau gangguan besar di sekitarnya. Ia menduga perubahan suasana secara tiba-tiba saat gerhana, ditambah reaksi antusias manusia di sekitar lokasi pengamatan, turut memicu meningkatnya kecemasan pada hewan-hewan tersebut.


Durasi Terjadinya Gerhana

Gerhana Matahari total merupakan fenomena yang relatif singkat karena hanya terjadi di wilayah Bumi yang dilalui bayangan inti Bulan atau umbra. Ukuran Bulan yang jauh lebih kecil dibandingkan Bumi membuat jalur totalitas gerhana tidak terlalu luas dan hanya berlangsung beberapa menit di setiap wilayah yang dilewatinya. Secara teori, durasi maksimum gerhana Matahari total yang dapat terjadi di permukaan Bumi adalah sekitar 7,5 menit. Salah satu gerhana terlama dalam sejarah modern terjadi pada 30 Juni 1973 di wilayah Samudra Atlantik dan Afrika dengan durasi sekitar 7,2 menit. Sementara itu, gerhana Matahari total yang melintasi Indonesia pada 11 Juni 1983 berlangsung sekitar 5,4 menit.

Sebelum memasuki fase totalitas, suatu wilayah biasanya terlebih dahulu mengalami gerhana parsial ketika bagian penumbra Bulan mulai menutupi Matahari secara perlahan. Setelah itu, ketika bayangan umbra tepat melintasi wilayah tersebut, langit akan berubah gelap sementara dan terjadilah gerhana Matahari total. Fenomena ini berakhir ketika penumbra meninggalkan area tersebut dan cahaya Matahari kembali muncul sepenuhnya. Selama gerhana berlangsung, bayangan Bulan bahkan dapat bergerak melintasi permukaan Bumi dengan kecepatan ribuan kilometer per jam.

Berbeda dengan gerhana Matahari, gerhana Bulan total dapat berlangsung jauh lebih lama. Durasi totalitas terpanjangnya bisa mencapai sekitar 106 menit ketika Bulan melintasi tepat di tengah bayangan umbra Bumi dan berada pada titik terjauh dari Bumi atau yang dikenal sebagai apogee. Pada posisi tersebut, pergerakan Bulan menjadi lebih lambat sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk melewati bayangan Bumi. Selain itu, gerhana Bulan berdurasi panjang juga cenderung terjadi ketika Bumi berada di titik aphelion, yaitu posisi terjauh dari Matahari, karena bayangan Bumi menjadi sedikit lebih besar.

Salah satu gerhana Bulan total terlama yang pernah tercatat terjadi pada 16 Juli 2000 dan dapat diamati dari kawasan Samudra Pasifik, Asia Timur, hingga Australia. Gerhana tersebut berlangsung sekitar 106 menit 25 detik. Bahkan dalam catatan yang lebih lama, gerhana Bulan total pada 13 Agustus 1859 tercatat memiliki durasi totalitas beberapa detik lebih panjang dibandingkan peristiwa tahun 2000.


Gerhana Bulan Terjadi Saat Bulan Purnama

Gerhana Bulan terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada pada posisi sejajar dalam satu garis lurus. Dalam astronomi, susunan tiga benda langit yang berada pada posisi sejajar ini dikenal dengan istilah syzygy, berasal dari bahasa Yunani, atau sering juga dikaitkan dengan konjungsi astronomi. Pada kondisi tersebut, Bumi berada di antara Matahari dan Bulan sehingga cahaya Matahari yang seharusnya menerangi Bulan terhalang oleh bayangan Bumi. Akibatnya, permukaan Bulan tampak gelap sebagian atau seluruhnya dan terjadilah gerhana Bulan.

Meski gerhana Bulan hanya dapat terjadi saat fase purnama, fenomena ini tidak berlangsung setiap bulan. Hal tersebut disebabkan oleh kemiringan orbit Bulan sekitar lima derajat terhadap bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari. Karena orbit Bulan tidak benar-benar sejajar, bayangan Bumi sering kali melewati bagian atas atau bawah Bulan sehingga tidak selalu menutupi permukaannya secara langsung.

Keteraturan pergerakan Matahari, Bumi, dan Bulan membuat para astronom mampu memperkirakan waktu terjadinya gerhana dengan sangat akurat. Bahkan saat ini, jadwal gerhana Matahari maupun gerhana Bulan dapat dihitung hingga puluhan tahun ke depan melalui berbagai pusat penelitian astronomi, seperti NASA Goddard Space Flight Center dan pemetaan astronomi yang dikembangkan oleh Xavier Jubier.

Penulis: Muhammad Faizal Akbar (Astronomy Enthusiast)
Editor: Tim Padepokan Albiruni

Comments0

Mari bangun diskusi bersama.

Type above and press Enter to search.