Jauh sebelum gerhana dapat dijelaskan melalui ilmu astronomi, fenomena ini sering dianggap sebagai pesan misterius dari langit. Ketika Matahari tiba-tiba menghilang di siang hari dan dunia seakan diselimuti kegelapan, banyak masyarakat kuno meyakini bahwa sesuatu yang besar akan terjadi. Gerhana kerap dikaitkan dengan datangnya bencana, peperangan, hingga jatuhnya seorang penguasa.
Salah satu kisah yang paling terkenal terjadi di Inggris pada abad ke-12. Pada 1 Agustus 1133, sebagian besar wilayah Inggris menyaksikan Gerhana Matahari Total yang membuat langit siang mendadak gelap. Peristiwa tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat saat itu, bahkan dicatat dalam berbagai kronik abad pertengahan sebagai fenomena yang mengundang ketakutan dan tanda tanya.
Menariknya, gerhana ini sebenarnya tidak terjadi saat Raja Henry I wafat. Namun, dua tahun setelah fenomena tersebut, tepatnya pada 1135, Raja Henry I meninggal dunia dan Inggris kemudian terjerumus ke dalam masa krisis politik serta perang saudara yang dikenal sebagai The Anarchy. Rangkaian peristiwa inilah yang membuat banyak penulis kronik pada masa itu menghubungkan gerhana 1133 dengan kematian sang raja dan kekacauan yang menyusul. Bagi masyarakat abad pertengahan, gerhana tersebut seolah menjadi pertanda dari langit tentang perubahan besar yang akan menimpa kerajaan Inggris.
Mengenal Raja Henry I Sang Raja Inggris
Henry I (1068/1069–1135) merupakan Raja Inggris yang memerintah sejak tahun 1100 hingga wafat pada 1135. Ia adalah putra ketiga William the Conqueror dan Matilda of Flanders. Henry naik takhta setelah kakaknya, William II of England, meninggal secara mendadak dalam sebuah perburuan. Selama masa pemerintahannya, ia dikenal sebagai penguasa yang berupaya memperkuat stabilitas kerajaan melalui berbagai reformasi hukum dan sosial. Salah satu kebijakannya yang paling terkenal adalah penerbitan Charter of Liberties (Piagam Kebebasan), dokumen yang kemudian dianggap sebagai salah satu cikal bakal lahirnya Magna Carta. Ia juga menghidupkan kembali sejumlah hukum yang berasal dari masa pemerintahan Edward the Confessor.Dalam kehidupan keluarganya, Henry memiliki dua anak sah dari permaisurinya, yaitu Matilda dan William Adelin. Namun, ia juga dikenal sebagai salah satu raja Inggris yang memiliki keturunan di luar nikah paling banyak, dengan jumlah yang diperkirakan mencapai lebih dari dua puluh orang. Henry wafat pada 1 Desember 1135 saat berada di Normandia untuk mengunjungi putrinya. Sepeninggalnya, Inggris menghadapi krisis suksesi karena putrinya, Empress Matilda, dan keponakannya, Stephen of Blois, sama-sama mengklaim hak atas takhta. Perselisihan tersebut berkembang menjadi perang saudara yang dikenal sebagai The Anarchy dan baru berakhir ketika Stephen mengakui putra Matilda, Henry II of England, sebagai pewaris takhta pada tahun 1153.
Gerhana Menjadi Bagian Sejarah
Salah satu gerhana matahari total yang paling terkenal dalam sejarah terjadi pada 2 Agustus 1133 di Inggris. Fenomena ini menjadi istimewa karena totalitasnya berlangsung lebih dari empat menit, jauh lebih lama dibandingkan rata-rata gerhana matahari total yang biasanya hanya berlangsung sekitar dua hingga tiga menit. Namun, yang membuat gerhana ini terus dikenang bukanlah durasinya, melainkan peristiwa-peristiwa yang terjadi setelahnya.Pada masa itu, Inggris diperintah oleh Raja Henry I. Ketika gerhana berlangsung, langit siang hari mendadak berubah gelap sehingga menimbulkan ketakutan di kalangan masyarakat. Sejarawan William dari Malmesbury bahkan menggambarkan peristiwa tersebut sebagai "kegelapan yang mengerikan yang mengguncang hati manusia". Tidak lama kemudian, Raja Henry I wafat dan Inggris memasuki masa penuh gejolak yang dikenal sebagai The Anarchy, sebuah periode perang saudara dan perebutan takhta yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Rangkaian peristiwa tersebut membuat banyak orang pada masa itu percaya bahwa gerhana merupakan pertanda datangnya bencana atau perubahan besar bagi kerajaan. Meski demikian, dari sudut pandang astronomi modern, hubungan antara gerhana dan kematian Raja Henry I hanyalah sebuah kebetulan sejarah. Gerhana matahari merupakan fenomena alam yang terjadi akibat posisi Matahari, Bulan, dan Bumi yang sejajar, tanpa kaitan dengan peristiwa politik maupun nasib seseorang. Menariknya, sepanjang sejarah, gerhana tidak hanya dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa buruk, tetapi juga kerap hadir bertepatan dengan berbagai momen penting yang membawa perubahan positif bagi manusia.
Perang Saudara Pasca Kematian Raja
Wafatnya Raja Henry I pada tahun 1135 memicu salah satu krisis suksesi terbesar dalam sejarah Inggris. Sebelum meninggal, Henry telah menetapkan putrinya, Empress Matilda, sebagai pewaris takhta setelah putra satu-satunya yang sah, William Adelin, tewas dalam tragedi tenggelamnya White Ship pada tahun 1120. Para bangsawan bahkan telah bersumpah untuk mendukung Matilda sebagai penguasa berikutnya. Namun, situasi berubah segera setelah Henry I wafat. Keponakannya, Stephen dari Blois, memanfaatkan dukungan para bangsawan dan Gereja Inggris untuk merebut takhta. Pada 22 Desember 1135, Stephen dinobatkan sebagai Raja Inggris. Banyak bangsawan lebih memilih Stephen dibanding Matilda karena pada masa itu gagasan dipimpin oleh seorang perempuan masih sulit diterima, terlebih Matilda menikah dengan Geoffrey dari Anjou, yang dianggap sebagai rival tradisional Normandia.Persaingan antara Stephen dan Matilda kemudian berkembang menjadi perang saudara yang dikenal sebagai The Anarchy (1135–1153). Konflik ini menyebabkan melemahnya pemerintahan pusat, meningkatnya kekuasaan para bangsawan lokal, serta maraknya kekacauan dan perampokan di berbagai wilayah Inggris. Kronik Anglo-Saxon menggambarkan masa tersebut sebagai periode yang dipenuhi perselisihan, kejahatan, dan penderitaan rakyat.
Pada tahun 1139, Matilda kembali ke Inggris dengan dukungan saudara tirinya, Robert dari Gloucester, serta Raja David I dari Skotlandia. Perang antara kedua kubu berlangsung sengit. Salah satu momen penting terjadi dalam Pertempuran Lincoln tahun 1141, ketika Stephen berhasil ditangkap oleh pasukan Matilda. Meski demikian, Matilda gagal memperoleh dukungan penuh dari rakyat London sehingga tidak pernah dimahkotai sebagai ratu. Tak lama kemudian Stephen dibebaskan setelah terjadi pertukaran tawanan dengan Robert dari Gloucester. Perang terus berlanjut tanpa kemenangan yang menentukan bagi kedua pihak. Salah satu peristiwa yang paling terkenal terjadi pada tahun 1142 ketika Matilda berhasil melarikan diri dari Kastel Oxford yang sedang dikepung. Dengan mengenakan pakaian putih agar menyatu dengan salju musim dingin, ia berhasil menyeberangi Sungai Thames yang membeku dan lolos dari kepungan pasukan Stephen.
Konflik baru mulai mereda ketika putra Matilda, Henry Plantagenet, tampil sebagai penerus perjuangan ibunya. Setelah kematian putra Stephen, Eustace, kedua pihak akhirnya mencapai kesepakatan melalui Perjanjian Wallingford pada tahun 1153. Dalam perjanjian tersebut, Stephen tetap menjadi raja hingga akhir hayatnya, tetapi mengakui Henry sebagai pewaris sah takhta. Ketika Stephen meninggal pada tahun 1154, Henry naik takhta sebagai Henry II, raja pertama dari Dinasti Plantagenet. Dengan demikian berakhirlah masa The Anarchy, periode panjang yang lahir dari krisis suksesi setelah wafatnya Henry I dan yang selama hampir dua dekade mengguncang stabilitas Kerajaan Inggris.
Contributor: Muhammad Faizal Akbar – Astronomy Enthusiast
Editor: Tim Padepokan Albiruni

Comments0
Mari bangun diskusi bersama.