Sebuah pertanyaan sederhana namun menyimpan beban ilmiah dan syar'i yang berat menggantung di Ruang Teatrikal Prof. Qadri Azizy, UIN Walisongo Semarang, Selasa (19/5/2026) apakah kita benar-benar sudah melihat hilal, atau hanya merasa melihatnya?
Tujuh Puluh Lima Persen Data Ditolak Dunia
Mutoha Arkanuddin, Ketua Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) sekaligus salah satu narasumber, membuka dengan data yang mengejutkan. Dari 145 data rukyat resmi pemerintah Indonesia yang terhimpun sejak 1963 hingga 2020, sekitar 58 data atau hampir 40 persen memiliki ketinggian hilal di bawah 6 derajat angka yang jauh di bawah rekor terendah hilal yang pernah berhasil dirukyat di Indonesia, yakni 6,75 derajat yang dicatat BMKG Waingapu pada 31 Oktober 2016 menggunakan kamera."Artinya, sekitar 75 persen data rukyat Indonesia ditolak validitasnya oleh komunitas rukyat global," ujar Mutoha.
Angka itu bukan sekadar statistik. Ia mencerminkan persoalan struktural yang sudah lama mengakar, yaitu diterimanya klaim-klaim rukyat yang secara ilmu astronomi seharusnya mustahil, dengan dalih kemaslahatan atau demi menyatukan umat. Akibatnya, data hilal nasional yang seharusnya menjadi fondasi ilmiah penentuan awal bulan justru terkontaminasi oleh laporan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Mutoha menyebut fenomena ini sebagai dampak dari "The Illusory Truth Effect" kesalahan yang terus-menerus diulang hingga lama-kelamaan dianggap sebagai kebenaran. Mitos bahwa hilal adalah benda gaib yang hanya bisa dilihat orang-orang dengan amalan khusus, atau bahwa mata telanjang lebih unggul dari teleskop karena "mata adalah ciptaan Allah", adalah contoh nyata dari efek tersebut.
Kriteria MABIMS, Antara Kemajuan dan Permasalahan Baru
Pada 22 Februari 2022, pemerintah Indonesia resmi memberlakukan kriteria baru penentuan awal bulan yang dikenal sebagai MABIMS 364 atau NeoMABIMS, menggantikan kriteria lama MABIMS 238 yang sudah digunakan sejak 1992. Kriteria baru ini menetapkan dua syarat, yaitu tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi jarak sudut antara pusat bulan dan pusat matahari minimal 6,4 derajat.Secara teknis, pergantian ini merupakan kemajuan. Kriteria lama dengan tinggi 2 derajat dan elongasi 3 derajat terbukti terlalu rendah dan tidak memiliki pijakan observasional yang kuat untuk wilayah Asia Tenggara. Namun Mutoha mengingatkan bahwa angka-angka baru itu pun tidak lahir dari data empirik di kawasan MABIMS sendiri.
"Angka 3 derajat diadopsi dari rekor teleskopik Abbas Ahmadiyan di Iran, sedangkan 6,4 derajat diambil dari rekor Jim Stamm di Amerika Serikat. Keduanya adalah pengamatan dalam kondisi sangat ideal dengan alat optik canggih, bukan hasil observasi mata telanjang di wilayah kita," jelasnya.
Kerumitan bertambah ketika pada 2023, melalui Forum Sinkronisasi Taqwim Standar Indonesia di Denpasar, parameter elongasi diubah dari perspektif toposentrik (dihitung dari permukaan bumi) menjadi geosentrik (dari pusat bumi) tanpa koordinasi dengan anggota MABIMS lainnya. Perubahan ini dilakukan demi menyesuaikan dengan Kriteria IRNU milik Nahdlatul Ulama, namun justru menambah kebingungan karena negara-negara MABIMS lain tidak dilibatkan dalam keputusan tersebut.
Dalam praktiknya, meski kriteria sudah disepakati bersama, masing-masing negara MABIMS masih sering berjalan sendiri-sendiri dalam penetapan awal bulan. Perbedaan kerap muncul bahkan di antara sesama anggota
Sains Menjawab, Kapan Hilal Bisa Dilihat?
Di luar persoalan kriteria dan politik penetapan kalender, Mutoha juga memaparkan aspek sains yang kerap luput dari perhatian para perukyat di lapangan. Salah satunya adalah konsep "best time" waktu terbaik untuk mengamati hilal setelah matahari terbenam.Hilal tidak serta-merta bisa dilihat begitu matahari tenggelam di ufuk barat. Langit masih terlalu terang, dan kontras hilal terhadap cahaya senja belum cukup untuk dideteksi. Waktu terbaik baru tercapai sekitar 4/9 dari selang waktu antara terbenamnya matahari dan terbenamnya bulan. Jika selisih tersebut adalah 48 menit, maka best time berada di menit ke-21 setelah matahari terbenam.
"Terlalu awal langit masih terang. Terlalu akhir, hilal sudah terlalu rendah dan gangguan refraksi atmosfer dari awan rendah makin besar," tegasnya.
Satu hal penting lain yang sering disalahpahami semua teori visibilitas hilal, dari Fotheringham, Yallop, hingga Odeh, hanya berlaku pada kondisi atmosfer yang sempurna. Ketika langit berawan atau kabur, meski secara matematis hilal sudah memenuhi semua parameter, visibilitasnya bisa turun hingga nol.
AI, Peluang Sekaligus Ancaman
Narasumber kedua, Dr. Muhammad Nurkhanif, M.S.I., Ketua Program Studi S1 Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang, mengangkat dimensi yang lebih mutakhir tentang bagaimana kecerdasan buatan (AI) bisa menjadi jawaban atas berbagai keterbatasan observasi hilal konvensional, sekaligus membuka ancaman baru yang belum pernah ada sebelumnya.Nurkhanif memetakan empat masalah mendasar yang selama ini menghantui rukyat konvensional, mulai dari kontras ekstrem antara hilal dan cahaya senja, lebar sabit yang kerap hanya beberapa detik busur, gangguan turbulensi atmosfer, hingga yang paling berbahaya subjektivitas pengamat yang rentan terhadap ilusi optik.
"Inilah yang dalam fiqh kita sebut persoalan al-yaqinu la yuzalu bissyak keyakinan tidak boleh dihapus oleh keraguan. Secara ilmiah pun demikian, kita membutuhkan mekanisme yang sekaligus mengakomodir standar astronomi dan standar syar'i," ujarnya.
AI, menurut Nurkhanif, hadir sebagai jawaban atas keterbatasan fisik mata manusia. Dengan teknik image stacking menumpuk puluhan hingga ratusan frame gambar secara matematis AI mampu menghasilkan citra hilal yang jauh lebih tajam dan dapat diverifikasi. Teknologi plate solving memastikan teleskop mengarah tepat ke koordinat hilal sesuai hisab, meminimalkan kesalahan manusia. Bahkan, pengolahan citra berbasis AI membuka kemungkinan rukyat qabla maghrib melihat hilal sebelum matahari terbenam sesuatu yang hampir mustahil bagi mata telanjang.
Namun di sisi lain, Nurkhanif mengingatkan bahwa AI juga mampu menciptakan gambar hilal palsu yang sangat meyakinkan. Teknologi Generative AI seperti model Difusi dan GAN kini sanggup menghasilkan foto hilal dari nol lengkap dengan tekstur kawah bulan dan gradasi senja yang sempurna atau menambahkan sabit hilal pada foto langit yang sebenarnya kosong. Metadata waktu dan lokasi pun bisa dipalsukan sedemikian rupa sehingga seolah sesuai dengan jadwal rukyat.
"AI itu seperti pisau. Bisa sangat bermanfaat, bisa sangat berbahaya. Kita butuh semacam turnitin untuk hilal sistem yang bisa mendeteksi apakah gambar yang diklaim itu asli hasil observasi atau rekayasa digital," katanya.
"Turnitin Hilal" dan Sertifikasi Perukyat
Untuk menjawab ancaman itu, Nurkhanif memaparkan konsep Decision Support System (DSS) berbasis AI yang dapat berfungsi sebagai sistem verifikasi terstandarisasi dalam sidang isbat. Setiap foto atau video rukyat yang diunggah ke sistem akan dianalisis secara paralel oleh dua modul, yaitu verifikasi astronomis dan forensik digital.Verifikasi astronomis memeriksa apakah posisi, kemiringan, dan iluminasi sabit hilal dalam gambar sesuai dengan data hisab pada waktu dan lokasi pengamatan. Forensik digital memeriksa konsistensi noise piksel gambar yang dipalsukan dengan cara copy-paste akan meninggalkan jejak ketidakkonsistenan yang bisa dideteksi algoritma. Hasil akhirnya berupa "Sertifikat Validasi Digital" dengan confidence score yang dapat dijadikan bahan pertimbangan otoritas agama dalam menerima atau menolak sebuah kesaksian.
Nurkhanif juga menekankan perlunya sertifikasi perukyat secara nasional. Selama ini siapa pun bisa mengajukan diri sebagai saksi hilal tanpa standar kompetensi yang jelas. Padahal dalam tradisi fiqh pun dikenal perbedaan antara khos mereka yang pernah melihat hilal namun belum sampai tingkat ahli dan khosul khos yang benar-benar memiliki keahlian mendalam dalam astronomi dan ilmu falak.
"Perlu ada diklat dan sertifikasi untuk menyetarakan kompetensi perukyat. Ini bukan soal menambah birokrasi, tapi soal menjaga integritas proses yang berimplikasi pada sah tidaknya ibadah jutaan orang," tegasnya.
Verify Then Trust
AI, dalam pandangan mereka, bukan ancaman bagi tradisi rukyat melainkan alat yang, jika digunakan dengan benar, justru dapat memperkuat keyakinan dan menghapus keraguan yang selama ini menggerogoti integritas proses penetapan awal bulan. Yang dibutuhkan bukan penolakan terhadap teknologi, melainkan literasi digital yang memadai bagi para praktisi falak agar mampu membedakan antara enhancement yang sah secara ilmiah dan manipulation yang harus ditolak.Dalam catatan sejarah falak, kisah dari zaman Anas bin Malik tentang seseorang yang mengira sehelai rambut di ujung teropong sebagai hilal masih relevan hingga hari ini hanya saja kini ancamannya bukan lagi sehelai rambut, melainkan piksel-piksel yang dirancang oleh algoritma.
Di sinilah letak peluang besar yang terbuka bagi generasi muda ilmu falak. Pengembangan AI untuk keperluan rukyatul hilal mulai dari sistem deteksi otomatis, verifikasi citra, hingga decision support system untuk sidang isbat adalah ladang riset dan inovasi yang masih sangat luas dan belum banyak digarap. Para mahasiswa ilmu falak, dengan bekal pemahaman astronomi dan syariah yang mereka miliki, berada di posisi yang paling tepat untuk membangun produk-produk semacam itu. Bukan sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan pencipta solusi yang benar-benar memahami persoalan dari dalam.
Kontributor: Sherly Nurmala
Editor: Tim Padepokan Albiruni



Comments0
Mari bangun diskusi bersama.